Selasa, 12 Juni 2012

Pengaruh Deterjen Terhadap Kecepatan Pernafasan Ikan


LAPORAN PRATIKUM BIOLOGI
“Pengaruh Deterjen Terhadap
Kecepatan Pernafasan Ikan”

DISUSUN

OLEH

Barha_chetiaone

KELAS
X1-IPA1

LABORATORIUM BIOLOGI
SMAN 4 PARIAMAN
TA : 2011/2012


Kata Pengantar

Puji syukur saya ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunianya saya dapat menyelesaikan tugas akhir semester Biologi ini dengan  pembahasan “Pengaruh Deterjen Terhadap Kecepatan Pernafasan Ikan”. Saya berharap melalui makalah ini kita dapat termotivasi untuk memperoleh pengetahuan dan meningkatkan prestasi dalam berbagai hal.
Bahwa menuntut ilmu bukan sekedar untuk memperoleh nilai tinggi, tetapi ilmu yang telah diserap dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Masukan yang konstruktif selalu saya nantikan demi kesempurnaan makalah ini.
Saya menyadari makalah ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu saya mengharapkan kritikan maupun saran yang bersifat membangun sehingga makalah ini menjadi lebih sempurna.




                                                                                                        Naras, Juni 2012

                                                                                                               Penulis




DAFTAR ISI

COVER.....................................................................................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang........................................................................................................1
1.2  Tujuan.....................................................................................................................2
1.3  Manfaat...................................................................................................................2
BAB II PELAKSANAAN PRATIKUM
2.1 Waktu dan Tempat..................................................................................................3
2.2 Alat dan Bahan........................................................................................................3
2.3 Cara Kerja...............................................................................................................3
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil........................................................................................................................4
3.2 Pembahasan................................................. ...........................................................5
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan.............................................................................................................7
4.2 Saran.......................................................................................................................7
DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Danau, sungai, lautan dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Selain mengalirkan air juga mengalirkan sedimen dan polutan. Berbagai macam fungsinya sangat membantu kehidupan manusia. Pemanfaatan terbesar danau, sungai, lautan dan air tanah adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya berpotensi sebagai objek wisata (Halimah. 2005).
            Salah satu yang menyebabkan tercemarnya air adalah penggunaan deterjen.  Deterjen adalah pembersih sintetis yang terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi, yang terdiri dari bahan kimia yang dapat memberikan dampak negatif pada biota yang hidup di laut ataupun sungai. Salah satu biota yang merasakan dampak dari penggunaan deterjen tersebut adalah ikan. Banyak kasus yang kita dengar bahwa sering terjadi kematian ikan akibat pencemaran air yang di sebabkan oleh penggunaan deterjen oleh ulah manusia. Deterjen tersebut bisa membuat ikan-ikan yang ada pada perairan menjadi terganggu, pernafasan nya terganggu, bahkan bisa membuat ikan menjadi mabuk dan akhirnya berujung pada kematian.





1.2 Tujuan
            Berdasarkan latar belakang di atas tujuan penulis mengadakan pratikum adalah
    1.2.1  Untuk mengetahui pengaruh deterjen terhadap pernafasan ikan.
    1.2.2 Untuk membandingkan kecepatan pernafasan ikan di air tercemar dengan air yang tidak    tercemar (dalam air murni)

1.3 Manfaat
            Berdasarkan tujuan dari penelitian diatas manfaat penulis mengadakan pratikum ini adalah
    1.3.1 Agar penulis mengetahui pengaruh detrejen terhadap pernafasan ikan.
    1.3.2 Supaya penulis bisa membandingkan kecepatan pernafasan ikan di air tercemar dengan air yang    tidak tercemar (dalam air murni)











BAB II
PELAKSANAAN PRATIKUM
2.1 Waktu dan tempat
            Penelitian ini diadakan pada hari Rabu, 9 mei 2012 pukul 10.23 WIB. Penelitian ini bertempat di depan halaman SMAN 4 PARIAMAN kelas XI-IPA 1
2.2 Alat dan bahan
     2.2.1 Alat : stopwatch, toples, gelas ukur.
     2.2.2 Bahan : deterjen, ikan, air.
2.3 Cara kerja
1.      Sediakan 4 aquarium yang telah diisi dengan air yang sama banyaknya.
2.      Masukkan satu ekor ikan kedalam masing-masing aquarium.
3.      Aquarium 1 tidak diberikan perlakuan apa-apa untuk di jadikan kontrol
4.      Masukkan deterjen kedalam aquarium 2, 3, dan 4 dengan konsentrasi yang berbeda.
5.      Hitung kecepatan pernafas ikan pada masing-masing aquarium mulai dari masuknya deterjen selama 1 menit
6.      Hitung lagi kecepatan bernafas ikan setelah 10 menit selama 1 menit.
7.      Lakukan berulang-ulang sampai satu jam.
8.      Amati apa yang terjadi dengan kondisi ikan setelah 1 jam pengamatan.
9.      Masukkan data kedalam tabel.
10.  Bandingkan perbedaan dari ke empat perlakuan tersebut.
11.  Buat kesimpulan dari pratikum tersebut.


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
            Tabel 1 : Hasil pengamatan pengaruh deterjen terhadap kecepatan pernafasan ikan
No
Waktu
Aquarium 1
Aquarium 2
Aquarium 3
Aquarium 4
1
Awal
90
37
40
60
2
10 menit 1
87
-
10
5
3
10 menit 2
79
-
-
-
4
10 menit 3
65
-
-
-
Konsentrasi deterjen
0 ml
10 ml
15 ml
20 ml


            Dari table pada aquarium 1 merupakan aquarium yang di isi dengan air murni, namun untuk aquarium 2, 3, dan 4 masing-masing diberi deterjen dengan perbaninga 5 ml tiap aquarium. Dan dari table tersebut dapat kita lihat bahwa ikan yang memiliki pernafasan yang terbanyak pada menit pertama terdapat pada aquarium pertama dimana kecepatan pernafasan ikan tersebut berjumlah 90/menit, sedangkan di nilai terendah kecepatan pernafasan ikan pada menit pertama terdapat pada aquarium ke dua dengan nilai kecepatan pernafasannya 37/menit. Setelah 10 menit 1 dari table diatas dapat juga kita lihat bahwa pada aquarium ke dua ikan sudah mulai mati, namun untuk kecepatan pernafasan tertinggi masih diraih oleh aquarium pertama. Hingga mencapai 10 menit 2 ikan yang berada pada aquarium ke 2, 3, dan 4 mulai mati, namun pada aquarium pertama ikan masih tetap bernafas dengan kecepatan bernafasnya 79, sampai mencapai pada 10 menit 3 ikan pada aquarium pertama masih tetap bernafas dengan kecepatan bernafasnya 65.



3.2 Pembahasan
            Dalam suatu percobaan, seorang ahli meneliti. Mendapati jumlah perhitungan kecepatan pernafasan ikan normal. Dimana kecepatan pernafasan ikan normal tersebut adalah sebanyak 121/per menit. Hal ini cukup wajar karena ikan memiliki oksigen yang cukup banyak pada aquarium (Raharjo, 1981)
            Namun, saat ini penulis akan membandingkanya dengan ikan yang berada pada aquarium 1. Diaman aquarium tersebut tidak dicemari oleh deterjen. Akan tetapi pada awal dimasukan, kecepatan pernafasan ikan tersebut hanya di dapat 90 kali/per menit. Hal ini tidak sesuai dengan kecepatan pernafasan ikan normal yaitu sebanyak 121 per menit yang di ungkapkan oleh (Raharjo,1981)
            Dari saat berada 10 menit 1, kecepatan pernafasan ikan pun diperoleh 87 kali/per menit. Hasil ini menurun dari pada hasil saat ikan dimasukan. Dan ini pun masih jauh dari percepatan pernafasan ikan normal yang di ungkapkan oleh (Raharjo,1981)
            Sampai pada saat 10 menit ke 2, dan 3 pernafasan ikan menjadi 79 dan 65 kali permenitnya. Dan hasil ini pun mulai menurun dari awal pertama ikan dimasukkan. Dan hasil ini juga jauh dari yang di ungkapkan oleh (Raharjo,1981) yang memperoleh kecepatan pernafasan ikan setiap menitnya adalah 121/per menit.
            Ketidak cocokan hasil kecepatan pernafasan ikan yang penulis dapat dengan (Raharjo,1981). Mungkin ikan yang berada pada aquarium pertama dalam keadaan yang kurang sehat, dan juga mungkin disebabkan karena aquarium yang digunakan terlalu kecil. Hingga membuat ikan sulit untuk bernafas.      
Pengaruh deterjen bagi ikan adalah membuat ikan kekurangan oksigen, karena deterjen yang bercampur dengan air akan membuat kandungan oksigen dalam air menurun, keberadaan busa di permukaan air menjadi salah satu penyebab kontak udara dengan air terbatas sehingga menurunkan oksigen terlarut dengan demikian akan menyebabkan ikan kekurangan 02 dan mati (Kriswantoro dan Sunyoto,1986)
            Cepat lambatnya ikan bergerak yaitu tergantung pada banyaknya deterjen pada air. Semakin tinggi konsentrasi deterjen yang terlarut pada air. Semakin tinggi,kosentrasi deterjen yang terlarut pada air, maka semakin cepat ikan mati. (Kriswantoro dan Sunyoto,1986)
            Namun pada penelitian yang penulis lakukan, ikan yang mendapat konsentrasi yang paling rendahlah yang kecepatan pernafasanya lebih kecil yaitu pada aquarium 2 sedangkan pada ikan yang mendapat konsentrasi deterjen paling banyak kecepatan pernafasanya lebih besar yaitu pada aquarium 4 dibandingkan pada aquarium 3 yang mendapat konsentrasi deterjen sebanyak 15 ml. Dan selain itu ikan yang berada pada aquarium 2 lah yang mati lebih dulu, meskipun konsentrasi deterjen cukup sedikit, lain halnya dengan ikan pada aquarium 3 dan aquarium 4 yang diberi deterjen lebih banuak pada ikan aquarium 2, mereka masih tetap hidup dengan kecepatan pernafasan mulai menurun yaitu sebanyak 10 da 5 tiap menitnya. Mungkin saja ikan yang berada pada aquarium 2 memiliki kondisi yang kurang sehat, atau kelelahan dan stress. Hingga menyebabkan ikan pada aquarium 2 yang lebih mati lebih dahulu.
            Akfi fadlin (2012) apabila konsentrasi larutan deterjen dalam air lebih besar dari sitoplasma, maka insang akan terlihat membengkak dan jika teris menerus akan mengalami pecahnya sel-sel insang. Jika sel-sel insang pecah maka ikan akan kehilangan alat pernafasan dan membuat ikan mati.
            Tanda-tanda fisik yang penulis ambil setelah tercemar oleh deterjen penulis mengambil pada aquarium 2. Pada awal di masukan overkulum ikan masih bergerak dengan normal, namun      pada pertengahan menit pertama ikan mulai bergerak dengan cepat berusaha mengambil oksigen sambil bergerak ke sudut-sudut aquarium, setelah itu dia mulai diam dan kejang-kejang hingga akhirnya mati dengan insang berwarna merah,mata merah dan mengeluaran feses.




BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
            Berdasarkan hasil pratikum yang penulis lakukan, kesimpulan yang di dapat dari hasil pratikum tersebut adalah :
1.      Dari penelitian yang di lakukan ikan yang berada pada aqarium 2 mati lebih dahulu meskipun dia mempunyai konsentrasi deterjen yang rendah.
2.      Setelah air dicemari oleh deterjen ikan mati dalam berbagai fariasi antara lain dengan mata merah, perut buncit, mengeluarkan feses, overkulum berdarah dll.
3.      Ikan yang terakhir mati adala ikan yang di beri konsentrasinya lebih banyak dari yang lain, ikan itu terdapat pada aquarium ke 4.

4.2 Saran
            Dari penelitian yang telah penulis lakukan penulis menyadari segala kekurangan dari lampiran pratikum ini seperti ikan yang digunakan kurang sehat, tempat aquarium yang kecil, alat ukur yang seadanya. Maka dari itu untuk kedepanya penulis menyarankan agar penelitian selanjutnya menggunakan ikan yang lebih sedikit besar dan sehat, aquarium yang digunakan besar agar ikan bebas berenang, dan alat ukur yang lengkap agar penelitian yang di lakukan akurat.









DAFTAR PUSTAKA

http://herisantoso89.blogspot.com/2011/04/laporan-pengaruh-lingkungan-terhadap.html (Senin, 11 April 2011)

Raharjo. 2005. Fisiologi Hewan Air. CV Sagung Seto, Jakarta. 64 hal

Raharjo. 1980. Sistem morfologi dan anatomi ikan. Bandung. 21 hal.

Apridani, Afri yuni 2011.Pengaruh kadar deterjen dalam air.
http//afriyunipradani.blogspot.com/2011/05/Pengaruh kadar deterjen dalam air. 11 mei 2012



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar